PPKB...GPAI HARUS MILIKI "LEARNING To KNOW dan LEARNING To BE"

PPKB adalah salah satu bentuk pembelajaran berkelanjutan bagi guru PAI yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa perubahan yang diinginkan berkaitan dengan keberhasilan siswa..

REVITALISASI SEMANGAT GPAI SMA DI MASA PANDEMI

pada hari Senin, 02 Agustus 2021 bertempat di SMAN 1 Aikmel, telah berlangsung kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMA Negeri/Swasta Lombok Timur.

PELATIHAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA

MGMP PAI SMA bekerja sama dengan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar melaksanakan pelatihan MPBM bagi GPAI SMA untuk meningkatkan kreativitas dalam melaksanakan Proses Belajar Mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan.

MGMP PAI HARUS BERANI BERSAING

Pengurus MGMP PAI punya rasa percaya diri dalam mempromosikan program kerjanya, yang tentu harus diimbangi oleh profesionalisme dari MGMP PAI itu sendiri sehingga pihak luar pun akan mengakui kiprah MGMP PAI..

SELAMAT TAHUN BARU 1443 HIJRIAH

Sejarah tahun baru Islam atau tahun baru Hijriyah diawali dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Sedangkan bagi umat Islam sesudah nabi, peringatan ini merupakan momen untuk hijrah dengan melakukan perubahan menjadi pribadi yang lebih baik.

MGMP PAI SMA LOMBOK TIMUR

Saluran Informasi Komunikasi Berbagi

Minggu, 06 Februari 2022

MGMP PAI Gelar Bimtek Penyusunan Soal



MGMP PAI SMA Kabupaten Lombok Timur Senin, 7 Februari 2022 bertempat di SMAN 1 Suralaga  Kegiatan MGMP ini membahas terkait tehnik penyusunan soal yang baik benar persiapan dalam penyusunan naskah soal Ujian Sekolah (US). Kegiatan tersebut menghadirkan bapak pengawas PAI Muhammad Syakirin, S.Ag.,M.MPd. sebagai pemateri, dan dihadiri pengurus dan Anggota MGMP PAI SMA se Kabupaten Lombok Timur.

Salah satu titik fokus dari pendidikan saat ini adalah penilaian berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan tersebut mendorong peserta didik mampu berpikir kritis, analitis, sistematis, terutama dalam konteks pemecahan masalah, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan teman sebaya. Namun demikian, belum semua pendidik mampu menyusun soal yang berorientasi pada keterampilan yang dimaksud. Tujuan dari kegiatan MGMP ini adalah untuk memberikan pengetahuan terkait penyusunan soal yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi kepada para guru PAI SMA yang berjumlah 45 orang. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, dan presentasi. 

Pengawas PAI Kemenag Lotim Bapak Muhammad Syakirin menjelaskan bahwa Pada dasarnya kita semua menghendaki lulusan yang berkualitas agar peserta  didik mampu berpikir kritis,  literal, dan sistemis, terutama dalam pemecahan masalah sehingga mereka  bisabersaing  dan  menjadi  pemenang  dalam  persaingan  yang  ada. 

Aktivitas pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu dari peningkatan kualitas lulusan kita. Sesungguhnya, soal-soal  yang berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) memampukan peserta didik berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif. Pemerintah melalui Kemendikbud kementerian agama mewajibkan  semua  guru  pada  setiap  satuan pendidikan  formal  untuk mendesain pembelajaran dan standar penilaian berorientasi pada HOTS demi  peningkatan kualitas Pendidikan di  Indonesia. 

Bapak/ibu guru yang terbiasa dengan penyusunan soal-soal berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Rendah atau Lower Order Thinking  Skill (LOTS) dan Keterampilan Berpikir Tingkat Sedang atau Medium Order Thinking Skill (MOTS) untuk segera beradaptasi dengan tuntutan HOTS demi kualitas peserta didik kita. 

Selanjutnya teknik penyusunan instrumen penilaian berbasis HOTS dalam pembelajaran PAI terdiri dari (1) menganalisa KD; (2) mengembangkan kisi-kisi; (3) memilih stimulus yang menarik dan konstektual; (4) menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal; (5) menentukan kunci jawaban/pedoman penskoran; (6) melakukan analisis kualitatif; dan (7) melakukan analisis kuantitatif. 

langkah-langkah penyusunan soal  HOTS  dalam  pembelajaran PAI, adalah sebagai berikut : 

langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisa KD, guru terlebih dahulu memilih KD mata  pelajaran yang digunakan dalam  kurikulum  2013. Setelah itu,  analisis  mana  saja  KD  yang  berada  pada  level  kognitif  berdasarkan  taksonomi bloom dan sesuai dengan level HOTS. Adapun level kognitif yang dimaksud adalah menganalisis  (C4),  mengevaluasi  (C5),  dan  mengkreasikan  (C6).  Langkah  kedua adalah  mengembangkan  kisi-kisi,  pada  langkah  ini  soal  harus  berisi  keterkaitan antara KD, indikator soal, materi, level  kognitif dan  bentuk soalnya.

Langkah ketiga, memilih stimulus yang menarik dan konstektual. Dalam konteks ujian sekolah, guru dapat  memilih  stimulus  dari  lingkungan  sekolah  atau  daerah  setempat.  

Langkah keempat  menulis  butir  pertanyaan,  pada  bagian  ini  pertanyaan  yang  ditulis  harus sesuai  dengan  kriteria  yang  ditetapkan  dalam  materi  dan  menampilkan  masalah aktual. 

Langkah  kelima  menentukan  kunci  jawaban/pedoman  penskoran,  pada bagian  ini  pedoman  penskoran  dibuat  untuk  bentuk  soal  uraian.  Sementara  kunci jawaban  dibuat  untuk  bentuk  soal  pilihan  ganda,  pilihan  ganda  kompleks. Pungkas Syakirin mengakhiri penjelasannya.

Selanjutnya ketua MGMP PAI Asmuni menjelaskan, bahwa kegiatan MGMP hari  ini  mendorong  para  guru memahami konstruksi soal-soal berorientasi pada HOTS. Di samping itu, para peserta MGMP  merasa senang dan puas dengan materi  yang  disajikan  oleh  bapak Pengawas PAI.  

Hubbus Salim menjelaskan bahwa sebelum ada penjelasan terkait materi ini GPAI hanya mengkonstruksi soal-soal yang merujuk pada buku-buku wajib mata pelajaran. Penjelasan materi penyusunan soal LOTS HOTS MOTS dari bapak  pengawas PAI membuka wawasan kita   terkait  proporsional penyusunan soal sesuai dengan taksonomi Bloom,  yaitu  soal-soal  yang  berorientasi pada  keterampilan  berpikir  tingkat  rendah (C1 dan C2), berpikir tingkat sedang  (C3), dan berpikir tingkat tinggi (C4-C6).

Jumat, 04 Februari 2022

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF DI SMAN 1 SELONG


AKSI NYATA BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

“MEMBIASAKAN BUDAYA POSTIF DENGAN MENERAPKAN 5S
 (SALAM, SENYUM, SAPA, SOPAN DAN SANTUN)” 

Penulis : Asmuni, M.Pd.I (Guru PAI SMAN Selong)

A. Latar Belakang 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada Satuan Pendidikan Formal, PPK ditujukan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter yang meliputi banyak nilai. Dalam implementasinya, penguatan pendidikan karakter bisa dilakukan dengan berbasis budaya sekolah. Maksud budaya sekolah di sini adalah keseluruhan corak relasional antarindividu di lingkungan pendidikan yang membentuk tradisi yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilainilai karakter yang dikembangkan di sekolah. Penerapan PPK yang berbasiskan budaya sekolah dengan budaya postif, salah satunya dengan pembiasaan nilainilai utama pancasila. Kontek sekarang untuk tatanan pelajar Indonesia, nilai-nilai tersebut tertuang dalam profil pelajar pancasila. Salah satu nilai karakter dalam profil pelajar pancasila adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. Bentuk penerapan nilai ini antara lain dengan menciptakan budaya postif dengan menerapkan perilaku 5S (salam, senyum, sapa, sopan dan santun) di lingkungan kelas/sekolah. 

Sepanjang pengamatan dan temuan kami di sekolah, tidak sedikit siswa belum menerapkan budaya salam, sopan dan santun. Sementara budaya sapa dan senyum sudah banyak siswa menunjukkannya. Di saat bertemu dengan guru, siswa tidak mengucapkan salam (tentu salam sesuai syariat Islam karena hampir semua siswa di sekolah ini beragama Islam). Maka dengan gurunya saja tidak, maka diasumsikan mereka tidak mengucapkan salam saat bertemu muka dengan siswa lain di sekolah. Maka guru akhirnya yang terlebih dahulu mengucapkan salam sebagai pembelajaran dan teladan bagi siswa. Tetapi meskipun tidak mengucapkan salam, siswa masih bisa menunjukkan wajah senyum dan kelihatan bahagia. Misalnya, tersenyum kepada guru, menyapa apabila bertemu dengan guru, bersalaman dengan guru, bersikap sopan, dan bertutur kata dengan bahasa yang santun. Hal lain yang patut dipotret di sekolah ini adalah siswa belum banyak menunjukkan perilaku sopan dan santun. Baik sopan dan santun saat berbicara, bersikap maupun dalam bertindak kepada sesama warga sekolah yang lain. 

Terwujudnya budaya 5S di sekolah sebagai bagian dari budaya postif dalam pelaksanaannya memerlukan kerjasama semua pihak terutama rekan guru (penggerak) yang memiliki peran strategis dengan menerapkan konsep-konsep inti budaya positif seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Penerapan konsep-konsep inti tersebut secara sistematis dan menyeluruh, tentu akan berdampak pada tumbuh kembangnya karakter siswa dan juga tumbuh kembangnya nilai-nilai yang tertuang dalam profil pelajar pancasila. Guru dalam mewujudkan maksud tersebut memerlukan kolaborasi dengan semua pihak, seperti kepala sekolah, seluruh siswa, teman sejawat, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua/wali siswa dan dinas pendidikan dan kebudayaan selaku pembina dan pemangku kebijakan pendidikan.

B. Tujuan 

Tujuan kegiatan aksi nyata ini sebagai berikut: 

  1. Memberikan pemahaman bagi siswa mengenai penting dan manfaatnya memiliki akhlak mulia dengan menerapkan dan membudayakan budaya 5S. 
  2. Melatih dan membiasakan siswa menerapkan budaya postif 5S di sekolah dan terlebih dapat berkembang dan berdampak pembiasaannya pada wilayah yang lebih luas yakni di luar lingkungan sekolah. 
  3. Terwujudkanya sekolah yang memiliki budaya positif melalui penerapan dan pembiasaan budaya 5S, di mana budaya postif di sekolah merupakan bagian dari visi sekolah. 
C. Tolok Ukur 

Sejumlah poin yang menjadi tolok ukur kegiatan aksi nyata ini sebagai berikut: 
  1. Siswa memahami pentingnya berakhlak mulia menerapkan dan membudayakan 5S dalam berinteraksi dengan semua warga sekolah. 
  2. Siswa terbiasa bahkan menjadi suatu kebutuhan dalam menerapkan budaya positif 5S di kelas/sekolah bahkan pembiasaannya semakin meluas di luar lingkungan sekolah. 
  3. Siswa dan warga sekolah lainnya menerapkan budaya positif sebagai wujud penerapan program sekolah yang termuat dalam visi-misi sekolah. 
D. Pelaksanaan Aksi Nyata 

Agar pelaksanaan aksi nyata budaya postif di sekolah ini berjalan terarah dan efektif, maka langkah-langkah yang diterapkan sebagai berikut: 

1. Mensosialisaikan pentingnya budaya positif di sekolah 
Menyampaikan informasi pentingnya budaya postif 5S di sekolah secara langsung dan mendalam kepada siswa masih terbatas, yaitu siswa kelas X-9, X-10, dan X-11 sesuai kelas yang saya ampu atau mengajar materi pelajaran di dalamnya. Memang saya juga mengajar di kelas XII IPS yang berjumlah 5 Penyampaian informasi pelaksanaan aksi nyata budaya positif 5S rombel, namun secara terprogram tidak menjadi sasaran karena siswa kelas XII saat ini sebentar lagi akan tamat. Untuk siswa kelas X memiliki waktu yang cukup panjang untuk melaksanakan, mengontrol, mengevaluasi dan tindak lanjut pelaksanaan program. 
Perlu diketahui bahwa menyampaikan program budaya postif ini telah dilakukan di kesempatan dan forum lain seperti saat kegiatan imtaq jumat pagi dan saat sebelum pembelajaran dimulai pada kelas yang saya ampu (termasuk kelas XII) yang bersifat kondisional. 

2. Membuat kesepakatan/keyakinan kelas 
Tahap berikutnya siswa menulis kesepakatan kelas di kelasnya masingmasing. Kesepakatan kelas dilakukan dengan menjaring informasi secara tertulis dari seluruh siswa. Setiap siswa diberikan
lembaran kecil untuk menulis sejumlah kesepakatan kelas yang diinginkan, termasuk di dalamnya penerapan budaya 5S. Setiap siswa dibatasi menulis 2 atau 3 poin kesepakatan yang ingin ditawarkan sebagai sebuah nilai yang diterapkan bersama. 

3. Mengidentifikasi kesepakatan/keyakinan kelas 

Setelah siswa menulis kesepakatan yang diinginkan, mereka maju dan menempelkankannya di papan tulis. Guru membacakan setiap lembaran kertas yang tertempel di papan telus tersebut satu per satu dan siswa mendengar dan mencermatinya. Kemudian guru meminta siswa mengidetifikasi dan
menyimpulkan usulan yang sama baik secara redaksi sama maupun redaksi beda namun memiliki makna yang sama, sehingga mengerucut menjadi sejumlah poin penting. 

Berikut terdapat sejumlah poin penting yang telah teridentifikasi dari seluruh kelas yang menjadi kesepakatan/ keyakinan kelas, yaitu 
a. membudayakan perilaku 5S di kelas/sekolah (poin ini yang paling banyak diusulkan oleh siswa) 
b. mengikuti kegiatan mengaji pagi setiap hari sebelum pembelajaran (mata pelajaran) dimulai.
c. Masuk kelas pembelajaran tepat waktu (on time)
d. Menyelesaikan tugas tepat waktu baik yang ditentukan oleh guru maupun berdasarkan kesepakatan bersama. 
e. Menguatkan kegiatan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran setiap hari sekolah. 

4. Melakukan pemantauan aksi nyata budaya positif 

Terhadap pelaksanaan praktik budaya positif 5S di sekolah oleh siswa dilakukan pemantauan secara berkala. Pemantauan sangat memungkinkan dilakukan setiap hari setidaknya ketika bertemu (berpapasan) langsung dengan siswa, apakah saat itu mereka secara spontan menerapkan keyakinan kelas yang disepakati atau tidak. Atau dapat juga secara spontan mengamati atau menjumpai mereka menerapkan keyakinan kelas itu setiap harinya. Pemantauan secara terencana dan mendalam dilakukan ketika memasuki kelas saat menyampaikan materi pembelajaran setiap pekan pada jam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebelum pembelajaran dimulai, guru mengamati praktik budaya positif dan memberikan penguatan terhadap siswa yang sudah merealisasikannya. Diharapkan terus menjadi budaya dan kebiasaan sehari-hari siswa. Kemudian mengingatkan kembali keyakinan kelas apabila ada siswa yang belum menerapkannya sebagai bagian dari sikap dan perilaku sehari-hari di sekolah. 

E. Problematika Pelaksanaan Aksi Nyata 
Dalam pelaksanaan aksi nyata budaya postif 5S atau lainnya, sejumlah permasalahan atau dapat disebut sebagai kelemahan yang ditemukan dalam pelaksanaannya. Pertama, karena secara program sasarannya terbatas pada kelas tertentu (sebagian siswa), maka pelaksanaannya tidak tidak bisa secara serentak kepada seluruh siswa di sekolah jumlahnya lebih dari seribu orang. Namun tetap harus diarahkan dan diterapkan oleh seluruh siswa di sekolah, karena ia juga merupakan bagian dari peraturan (tata tertib) sekolah dan merupakan bagian dari visi dan tujuan sekolah. Akan tetapi lebih difokuskan pada siswa tertentu sasaran program budaya positif 5S. Maka upaya berikutnya, meskipun sasaran terbatas pada sejumlah siswa, pemantauan secara intensif tetap dilakukan pada seluruh siswa, agar siswa yang merupakan sasaran tidak terpengaruh dengan perilaku siswa lain yang bukan sasaran. Kedua, aksi nyata ini belum dapat melibatkan seluruh guru dan warga sekolah lainnya untuk berkolaborasi terutama dalam memantau perkembangan aksi nyata di lapangan, karena mungkin masih lebih fokus menjalankan tufoksi masing-masing atau kemungkinan ketiadaan informasi yang diperoleh terkait pelaksanaan aksi nyata ini. Hal dalam kadang dalam kondisi tertentu dirasakan oleh penulis sendiri, memfokuskan pada tugasi tertentu saat itu. Maka ke depannya perlu memaksimalkan sosialisasi dan mengajak semua pihak untuk berkolbaorasi. 
Ketiga, pelaksanaan aksi nyata ini hasilnya sampai disusunnya tulisan ini belum dapat dilihat dengan waktu yang relatif singkat (sebulan dua bulan, misalnya), melainkan memerlukan waktu dan proses yang tak singkat karena berkaitan dengan perubahan karakter dan perilaku seseorang. Maka jelas perubahannya tidak secepat membalik telapak tangan. Tetapi, berdasarkan pemantauan dan observasi sejauh ini tidak sedikit siswa menunjukkan perubahan sikap dan perilakunya, yang tadinya belum menerapkan budaya 5S sekali atau hanya sebagiannya, sekarang sudah merealisasikannya. Upaya berikutnya adalah memaksimalkan pemantauan pelaksanaan agar perilaku tersebut menjadi kebiasaan (budaya postif). Dalam pelaksanaan aksi nyata ini di samping terdapat sejumlah permasalahan atau kelemahannya, terdapat pula sejumlah kelebihannya. 
Pertama, siswa memiliki acuan lebih jelas berupa kesepakatan/keyakinan kelas yang telah disepakati karena mereka mudah mengingat atau diingatkan guru. Barangkali berbeda dengan peraturan kelas atau tata tertib sekolah yang dibuat banyak dan belum tentu diterima oleh siswa sehingga berpotensi untuk dilanggar. 
Kedua, kesepakatan/keyakinan kelas yang disepakati sesuai dengan keadaan dan kebutuhan siswa karena berangkat dari usulan atau pendapat siswa itu sendiri melalui identifikasi kesepakatan kelas. 
Ketiga, dapat dipantau secara berkala terhadap aktivitas penerapan budaya 5S oleh siswa terutama ketika melaksanakan pembelajaran di kelas tersebut. Bahkan dilakukan pemantauan saat berkeliling menuju kelas-kelas ketika memantau pelaksanaan program mengaji pagi sebelum pembelajaran dimulai. Dalam hal ini pemantauan lebih difokuskan pada praktik budaya 5S. 

F. Dukungan Yang Dibutuhkan
Keberhasilan pelaksanaan aksi nyata ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh penulis, melainkan harus didukung oleh semua pihak sebagai bentuk kolaborasi. Berikut sejumlah pihak terkait yang memberi dukungan sebagai berikut: 
  1. Dukungan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan; 
  2. Dukungan teman sejawat (guru mata pelajaran); 
  3. Dukungan warga sekolah lainnya secara bersama-sama mewujudkan aksi nyata ini;
  4. Dukungan siswa sebagai subyek/sasaran utama untuk menyambut baik dan berkomitmen melaksanakan aksi nyata ini; 
  5. Dukungan komite sekolah dan orangtua/wali siswa. 
File Bisa di download di sini