Tahun Baru Hijriah memiliki makna tersendiri bagi setiap Muslim. Oleh karena itu, momen ini sangat dimuliakan. Umat Islam memperingati datangnya tahun baru hijriah berbeda dengan tahun baru masehi. Tahun baru masehi biasanya dirayakan dengan hura-hura dan berpesta. Sedangkan tahun baru hijriah diperingati dengan memanjatkan doa.
Sejarah tahun baru Islam atau tahun baru Hijriyah diawali dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Sedangkan bagi umat Islam sesudah nabi, peringatan ini merupakan momen untuk hijrah dengan melakukan perubahan menjadi pribadi yang lebih baik. Maka hijrah yang akan kita jalani dalam arti kiasan disini, adalah hijrah nafsiah dan hijratul amaliyah, yaitu perpindahan dari kufur menuju iman, peningkatan mutu diri dari segi spiritual dan intelektual, serta meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Bebarap makna yang dapat kita ambil dalam peringatan tahun baru Hijriah 1443 H diantaranya:
1. Hijrahnya Nabi Muhammad
Tanggal 1 Muharram juga diperingati sebagai pengingat peristiwa penting saat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam hijrah dari Kota Makkah ke Madinah yang kemudian melahirkan agama Islam.
Setelah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam hijrah, Islam mengalami perkembangan pesat dan makin menyebar hingga ke Makkah serta wilayah sekitarnya.
2. Anjuran puasa Muharam
Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam mendorong umatnya melakukan puasa pada bulan Muharam. Hal ini sebagaimana sabda beliau:
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Sementara sholat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim Nomor 1163, dari Abu Hurairah)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, "Hadis ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharam." (Syarh Shahih Muslim, 8: 55)
Setidaknya, ada lima keutamaan puasa Muharram. Pertama, menjadi puasa yang paling utama, sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim. Kedua, termasuk dalam keutamaan berpuasa dalam bulan-bulan mulia atau al-asyhurul hurum. Ketiga, puasa sehari dalam bulan Muharrram pahalanya sama dengan puasa 30 hari. Selain itu, Keempat, khusus puasa hari Asyura, yakni pada tanggal 10 Muharram, maka akan menjadi pelebur dosa setahun yang telah lewat. Kelima, Sementara puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa 11 Muharram yang dijadikan pelengkap puasa Asyura pada 10 Muharram, menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura.
Adapun niat puasa Muharram adalah sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Muharram karena Allah ta’âlâ.
Khusus hari kesembilan (tasu’a) dan kesepuluh (‘asyura), ada niatnya tersendiri sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.
Niat puasa Asyura secara lengkap:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya, “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ.”
Wallohua'lam










0 comments:
Posting Komentar