AKSI NYATA BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
“MEMBIASAKAN BUDAYA POSTIF DENGAN MENERAPKAN 5S
(SALAM, SENYUM, SAPA, SOPAN DAN SANTUN)”
Penulis : Asmuni, M.Pd.I (Guru PAI SMAN Selong)
A. Latar Belakang
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20 Tahun 2018 tentang
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada Satuan Pendidikan Formal, PPK
ditujukan untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter yang
meliputi banyak nilai. Dalam implementasinya, penguatan pendidikan karakter bisa
dilakukan dengan berbasis budaya sekolah. Maksud budaya sekolah di sini adalah
keseluruhan corak relasional antarindividu di lingkungan pendidikan yang
membentuk tradisi yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilainilai karakter yang dikembangkan di sekolah. Penerapan PPK yang berbasiskan
budaya sekolah dengan budaya postif, salah satunya dengan pembiasaan nilainilai utama pancasila. Kontek sekarang untuk tatanan pelajar Indonesia, nilai-nilai
tersebut tertuang dalam profil pelajar pancasila. Salah satu nilai karakter dalam
profil pelajar pancasila adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan
berakhlak mulia. Bentuk penerapan nilai ini antara lain dengan menciptakan
budaya postif dengan menerapkan perilaku 5S (salam, senyum, sapa, sopan dan
santun) di lingkungan kelas/sekolah.
Sepanjang pengamatan dan temuan kami di sekolah, tidak sedikit siswa
belum menerapkan budaya salam, sopan dan santun. Sementara budaya sapa dan
senyum sudah banyak siswa menunjukkannya. Di saat bertemu dengan guru,
siswa tidak mengucapkan salam (tentu salam sesuai syariat Islam karena hampir
semua siswa di sekolah ini beragama Islam). Maka dengan gurunya saja tidak,
maka diasumsikan mereka tidak mengucapkan salam saat bertemu muka dengan
siswa lain di sekolah. Maka guru akhirnya yang terlebih dahulu mengucapkan
salam sebagai pembelajaran dan teladan bagi siswa. Tetapi meskipun tidak
mengucapkan salam, siswa masih bisa menunjukkan wajah senyum dan kelihatan
bahagia. Misalnya, tersenyum kepada guru, menyapa apabila bertemu dengan
guru, bersalaman dengan guru, bersikap sopan, dan bertutur kata dengan bahasa
yang santun. Hal lain yang patut dipotret di sekolah ini adalah siswa belum banyak
menunjukkan perilaku sopan dan santun. Baik sopan dan santun saat berbicara,
bersikap maupun dalam bertindak kepada sesama warga sekolah yang lain.

Terwujudnya budaya 5S di sekolah sebagai bagian dari budaya postif dalam
pelaksanaannya memerlukan kerjasama semua pihak terutama rekan guru
(penggerak) yang memiliki peran strategis dengan menerapkan konsep-konsep
inti budaya positif seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol,
keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Penerapan konsep-konsep inti tersebut
secara sistematis dan menyeluruh, tentu akan berdampak pada tumbuh
kembangnya karakter siswa dan juga
tumbuh kembangnya nilai-nilai yang
tertuang dalam profil pelajar pancasila.
Guru dalam mewujudkan maksud
tersebut memerlukan kolaborasi dengan
semua pihak, seperti kepala sekolah,
seluruh siswa, teman sejawat, tenaga
kependidikan, komite sekolah, orang
tua/wali siswa dan dinas pendidikan dan
kebudayaan selaku pembina dan
pemangku kebijakan pendidikan.
B. Tujuan
Tujuan kegiatan aksi nyata ini sebagai berikut:
- Memberikan pemahaman bagi siswa mengenai penting dan manfaatnya
memiliki akhlak mulia dengan menerapkan dan membudayakan budaya 5S.
- Melatih dan membiasakan siswa menerapkan budaya postif 5S di sekolah dan
terlebih dapat berkembang dan berdampak pembiasaannya pada wilayah
yang lebih luas yakni di luar lingkungan sekolah.
- Terwujudkanya sekolah yang memiliki budaya positif melalui penerapan dan
pembiasaan budaya 5S, di mana budaya postif di sekolah merupakan bagian
dari visi sekolah.
C. Tolok Ukur
Sejumlah poin yang menjadi tolok ukur kegiatan aksi nyata ini sebagai
berikut:
- Siswa memahami pentingnya berakhlak mulia menerapkan dan
membudayakan 5S dalam berinteraksi dengan semua warga sekolah.
- Siswa terbiasa bahkan menjadi suatu kebutuhan dalam menerapkan budaya
positif 5S di kelas/sekolah bahkan pembiasaannya semakin meluas di luar
lingkungan sekolah.
- Siswa dan warga sekolah lainnya menerapkan budaya positif sebagai wujud
penerapan program sekolah yang termuat dalam visi-misi sekolah.
D. Pelaksanaan Aksi Nyata
Agar pelaksanaan aksi nyata budaya postif di sekolah ini berjalan terarah
dan efektif, maka langkah-langkah yang diterapkan sebagai berikut:
1. Mensosialisaikan pentingnya budaya positif di sekolah Menyampaikan informasi pentingnya budaya postif 5S di sekolah secara
langsung dan mendalam kepada siswa masih terbatas, yaitu siswa kelas X-9,
X-10, dan X-11 sesuai kelas yang saya ampu atau mengajar materi pelajaran
di dalamnya. Memang saya juga mengajar di kelas XII IPS yang berjumlah 5
Penyampaian informasi pelaksanaan aksi nyata
budaya positif 5S
rombel, namun secara terprogram tidak menjadi sasaran karena siswa kelas
XII saat ini sebentar lagi akan tamat. Untuk siswa kelas X memiliki waktu yang
cukup panjang untuk melaksanakan, mengontrol, mengevaluasi dan tindak
lanjut pelaksanaan program.
Perlu diketahui bahwa menyampaikan program budaya postif ini telah
dilakukan di kesempatan dan forum lain seperti saat kegiatan imtaq jumat pagi
dan saat sebelum pembelajaran dimulai pada kelas yang saya ampu
(termasuk kelas XII) yang bersifat kondisional.
2. Membuat kesepakatan/keyakinan kelas
Tahap berikutnya siswa menulis kesepakatan kelas di kelasnya masingmasing. Kesepakatan kelas dilakukan dengan menjaring informasi secara
tertulis dari seluruh siswa. Setiap siswa
diberikan
lembaran kecil untuk menulis
sejumlah kesepakatan kelas yang
diinginkan, termasuk di dalamnya
penerapan budaya 5S. Setiap siswa
dibatasi menulis 2 atau 3 poin kesepakatan
yang ingin ditawarkan sebagai sebuah nilai
yang diterapkan bersama.
3. Mengidentifikasi kesepakatan/keyakinan kelas
Setelah siswa menulis kesepakatan yang diinginkan, mereka maju dan
menempelkankannya di papan tulis. Guru membacakan setiap lembaran
kertas yang tertempel di papan telus tersebut satu per satu dan siswa
mendengar dan mencermatinya. Kemudian guru meminta siswa
mengidetifikasi dan
menyimpulkan usulan yang
sama baik secara redaksi sama
maupun redaksi beda namun
memiliki makna yang sama,
sehingga mengerucut menjadi
sejumlah poin penting.
Berikut terdapat sejumlah
poin penting yang telah
teridentifikasi dari seluruh kelas
yang menjadi kesepakatan/
keyakinan kelas, yaitu
a. membudayakan perilaku 5S
di kelas/sekolah (poin ini
yang paling banyak diusulkan oleh siswa)
b. mengikuti kegiatan mengaji pagi setiap hari sebelum pembelajaran (mata
pelajaran) dimulai.
c. Masuk kelas pembelajaran tepat waktu (on time)
d. Menyelesaikan tugas tepat waktu baik yang ditentukan oleh guru maupun
berdasarkan kesepakatan bersama.
e. Menguatkan kegiatan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran setiap
hari sekolah.
4. Melakukan pemantauan aksi nyata budaya positif
Terhadap pelaksanaan praktik budaya positif 5S di sekolah oleh siswa
dilakukan pemantauan secara berkala. Pemantauan sangat memungkinkan
dilakukan setiap hari setidaknya ketika bertemu (berpapasan) langsung
dengan siswa, apakah saat itu mereka secara spontan menerapkan keyakinan
kelas yang disepakati atau tidak. Atau dapat juga secara spontan mengamati
atau menjumpai mereka menerapkan keyakinan kelas itu setiap harinya.
Pemantauan secara terencana dan mendalam dilakukan ketika memasuki
kelas saat menyampaikan materi pembelajaran setiap pekan pada jam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebelum pembelajaran dimulai,
guru mengamati praktik budaya positif dan memberikan penguatan terhadap
siswa yang sudah merealisasikannya. Diharapkan terus menjadi budaya dan
kebiasaan sehari-hari siswa. Kemudian mengingatkan kembali keyakinan
kelas apabila ada siswa yang belum menerapkannya sebagai bagian dari
sikap dan perilaku sehari-hari di sekolah.
E. Problematika Pelaksanaan Aksi Nyata
Dalam pelaksanaan aksi nyata budaya postif 5S atau lainnya, sejumlah
permasalahan atau dapat disebut sebagai kelemahan yang ditemukan dalam
pelaksanaannya.
Pertama, karena secara program sasarannya terbatas pada kelas tertentu
(sebagian siswa), maka pelaksanaannya tidak tidak bisa secara serentak kepada
seluruh siswa di sekolah jumlahnya lebih dari seribu orang. Namun tetap harus
diarahkan dan diterapkan oleh seluruh siswa di sekolah, karena ia juga
merupakan bagian dari peraturan (tata tertib) sekolah dan merupakan bagian dari
visi dan tujuan sekolah. Akan tetapi lebih difokuskan pada siswa tertentu sasaran
program budaya positif 5S. Maka upaya berikutnya, meskipun sasaran terbatas
pada sejumlah siswa, pemantauan secara intensif tetap dilakukan pada seluruh
siswa, agar siswa yang merupakan sasaran tidak terpengaruh dengan perilaku
siswa lain yang bukan sasaran.
Kedua, aksi nyata ini belum dapat melibatkan seluruh guru dan warga
sekolah lainnya untuk berkolaborasi terutama dalam memantau perkembangan
aksi nyata di lapangan, karena mungkin masih lebih fokus menjalankan tufoksi
masing-masing atau kemungkinan ketiadaan informasi yang diperoleh terkait
pelaksanaan aksi nyata ini. Hal dalam kadang dalam kondisi tertentu dirasakan
oleh penulis sendiri, memfokuskan pada tugasi tertentu saat itu. Maka ke
depannya perlu memaksimalkan sosialisasi dan mengajak semua pihak untuk
berkolbaorasi.
Ketiga, pelaksanaan aksi nyata ini hasilnya sampai disusunnya tulisan ini
belum dapat dilihat dengan waktu yang relatif singkat (sebulan dua bulan,
misalnya), melainkan memerlukan waktu dan proses yang tak singkat karena
berkaitan dengan perubahan karakter dan perilaku seseorang. Maka jelas
perubahannya tidak secepat membalik telapak tangan. Tetapi, berdasarkan
pemantauan dan observasi sejauh ini tidak sedikit siswa menunjukkan perubahan
sikap dan perilakunya, yang tadinya belum menerapkan budaya 5S sekali atau
hanya sebagiannya, sekarang sudah merealisasikannya. Upaya berikutnya
adalah memaksimalkan pemantauan pelaksanaan agar perilaku tersebut menjadi
kebiasaan (budaya postif).
Dalam pelaksanaan aksi nyata ini di samping terdapat sejumlah
permasalahan atau kelemahannya, terdapat pula sejumlah kelebihannya.
Pertama, siswa memiliki acuan lebih jelas berupa kesepakatan/keyakinan
kelas yang telah disepakati karena mereka mudah mengingat atau diingatkan
guru. Barangkali berbeda dengan peraturan kelas atau tata tertib sekolah yang
dibuat banyak dan belum tentu diterima oleh siswa sehingga berpotensi untuk
dilanggar.
Kedua, kesepakatan/keyakinan kelas yang disepakati sesuai dengan
keadaan dan kebutuhan siswa karena berangkat dari usulan atau pendapat siswa
itu sendiri melalui identifikasi kesepakatan kelas.
Ketiga, dapat dipantau secara berkala terhadap aktivitas penerapan budaya
5S oleh siswa terutama ketika melaksanakan pembelajaran di kelas tersebut.
Bahkan dilakukan pemantauan saat berkeliling menuju kelas-kelas ketika
memantau pelaksanaan program mengaji pagi sebelum pembelajaran dimulai.
Dalam hal ini pemantauan lebih difokuskan pada praktik budaya 5S.
F. Dukungan Yang Dibutuhkan
Keberhasilan pelaksanaan aksi nyata ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh
penulis, melainkan harus didukung oleh semua pihak sebagai bentuk kolaborasi.
Berikut sejumlah pihak terkait yang memberi dukungan sebagai berikut:
- Dukungan kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan;
- Dukungan teman sejawat (guru mata pelajaran);
- Dukungan warga sekolah lainnya secara bersama-sama mewujudkan aksi
nyata ini;
- Dukungan siswa sebagai subyek/sasaran utama untuk menyambut baik dan
berkomitmen melaksanakan aksi nyata ini;
- Dukungan komite sekolah dan orangtua/wali siswa.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusGood job ustadz ! Semoga berkah terus menyertai 🤲
BalasHapus